Suatu ketika sahabat lamaku, Meity, dan suaminya, Hendra, akan datang berkunjung. Ini akan menjadi pertemuan kami yang pertama setelah beberapa tahun berpisah. Mereka baru pindah ke Jakarta sehingga aku punya ide memberi hadiah, untuk mengisi rumah baru mereka. Hendra adalah kolektor barang antik. Karenanya, aku berencana membelikan sesuatu yang antik untuk pajangan rumah.
Jadilah aku pergi berkeliling sentra-sentra barang antik di Jakarta. Ternyata memilih barang antik juga tidak mudah, apalagi seumur-umur baru pertama kali berburu barang antik.
Setelah lelah berkeliling, aku tertarik pada sebuah toko. Letaknya di tengahtengah, sempit dan terjepit. Seorang lelaki tua Bandar Q sedang mengelap meja kayu kecil. Sangat indah. Tingginya sekitar 20 cm dengan pinggiran berukir khas Cina. Kuat sekali kesan antiknya.
Aku menyapanya dan mengatakan mejanya bagus sekali. Lelaki berambut putih itu cuek saja. Menoleh pun tidak. Kalau melihat wajahnya, ia tampak seperti tersenyum, padahal tidak. Hanya tarikan bentuk mulutnya yang seperti tersenyum.
Kemudian, ketika aku bertanya apa guna meja itu, seperti menggumam, ia meletakkan sebuah mangkuk porselen di atasnya. Aku mengangguk-angguk, ya… bagus. Kemudian ia menukar mangkuk itu dengan guci kecil.
Okelah, aku mengerti. Deal. Aku membawanya pulang. Ketika menuju tempat parkir, sepasang pria wanita bergegas menghampiriku.
Mereka ingin membeli meja unik itu dengan dua kali lipat. Setengah memohon mereka memintaku untuk melepasnya. Katanya mereka sangat butuh meja itu. Wah, jangan-jangan orang-orang ini pemburu barang antik, pikirku. Berarti benda ini berharga banget. Jadi, tepat pilihanku.
Akhirnya, dengan alasan pesanan orang, aku berhasil menolak permintaan mereka. Sampai di rumah, aku minta tolong si Mbok mengangkatnya. Ia mengeluh, katanya dingklik saja, kok, berat. Kemudian kami bersama-sama menaruhnya di pojok ruang tengah yang posisinya dapat terlihat dari ruang tamu.
Domino QQ Si Mbok bertanya lagi mengapa mejanya berbau wangi seperti dupa. Sebenarnya aku agak bingung, lalu aku jelaskan bahwa barang itu dibeli di took orang Tionghoa. Si Mbok baru puas dan tidak berkata-kata lagi. Mungkin karena kecapaian, malam itu aku tidur pulas sekali. Bahkan, kalau si Mbok tidak mengetuk pintu, aku pasti terlambat bangun pagi.
Aku nyaris lupa pada meja itu, kalau saja aku tidak harus melewati pagi itu. Namun entah kenapa, perasaanku tidak enak yang susah dijelaskan. Padahal, aku tidak mendengar dan tidak melihat apa-apa. Tapi, seperti ada sesuatu yang misterius di pojok ruangan itu.
Perasaan galau itu terbawa terus sampai di tempat kerja. Aku jadi khawatir. Seharian aku menelepon si Mbok sampai empat kali. Menanyakan kabarnya. Si Mbok malah yang kebingungan dengan ulahku.
Hari Minggu, Meity dan Hendra memenuhi janjinya datang berkunjung. Hendra bilang rumahnya enak, hong sui-nya bagus. Kedua temanku ini adalah keturunan Tionghoa. Ketika masuk ke ruang tamu, Hendra langsung menunjuk pada meja kecil di atas lemari sudut. Ia berkomentar meja itu antik, kualitasnya bagus dan sudah sangat tua.
Ketika kutanya apa fungsi meja cantik itu, dengan tenang ia menjelaskan bahwa meja itu merupakan tempat meletakkan guci abu jenazah. Haaaahh? Aku gemetaran. Ya Tuhan, kenapa tidak terpikir olehku… bukankah penjualnya pernah meletakkan guci di atasnya waktu itu?
Akhirnya acara reuni itu menjadi ajang curhat-ku kepada mereka. Beberapa malam terakhir aku tidak bisa tidur. Kadangkala ada bau dupa yang menyengat di ruangan itu, atau tiba-tiba udaranya pengap menyesakkan. Bahkan, aku tidak berani menoleh bila melewati meja itu.
Kalau aku pulang agak malam rumah kelihatan suram, padahal semua lampu dihidupkan. Sampai-sampai aku takut pulang. Meja itu seperti menerorku. Hendra memang teman yang bijak. Dia mengambil alih masalahku. Menurutnya, lebih baik mengembalikan benda antic itu kembali ke tempatnya. Mereka lalu mengantarku kembali ke toko antik.
Hendra yang bicara kepada pemilik took yang dipanggilnya Engkong. Entah apa yang mereka bicarakan. Engkong menoleh kepadaku. Ia tersenyum, kali ini benarbenar tersenyum. ”Jangan takut,” katanya. Ia juga mengembalikan separuh uangku. Aku menolaknya.
Sebagai kolektor barang antik, Hendra paham dengan kondisi itu. Seperti nasihatnya: “Barang antik adalah peninggalan kuno Agen bandar yang masa lalunya kita tidak tahu seperti apa. Menyimpannya berarti membawa masuk sejarah yang mungkin masih terikat pada benda itu. Jadi, auranya bisa positif, bisa juga negatif.
Ya, benar, aku percaya itu. Tapi, sampai sekarang, ada satu hal yang kedua sahabat baikku tidak tahu bahwa benda antik itu sebenarnya aku beli untuk mereka.
***

No comments:
Post a Comment