Membuka Tabir Gelap Dugaan Pelecehan Seksual di Sekolah Asrama Bali - Mengulas Infomasi Terbaru

Friday, February 1, 2019

Membuka Tabir Gelap Dugaan Pelecehan Seksual di Sekolah Asrama Bali


Kasus dugaan pelecehan seksual yang terjadi hampir 10 tahun lalu, di salah satu sekolah asrama yang berlokasi di Klungkung, Bali, tiba-tiba saja muncul ke permukaan. Itu bermula dari perang komentar di laman Facebook pribadi milik istri Gubernur Bali Putri Koster.

Dalam laman tersebut, istri Gubernur berfoto dengan salah satu pendiri sekolah asrama di Bali berinisial AIU atau GI. Dalam foto Bandar Q tersebut, keduanya tampak sangat akrab. Rupanya foto ini mengundang komentar dari beberapa orang pemerhati anak. Salah satunya Siti Sapurah atau yang akrab disapa Ipung. Ipung dan rekan-rekannya menanyakan keakraban istri gubernur dengan orang yang disebut-sebut sebagai pelaku pedofilia.

"Ada teman saya yang komentar. 'kok ibu gubernur malah cekikikan dengan pelaku pedofil ya?'" kata Ipung saat berbincang dengan merdeka.com, Rabu (30/1).

Komentar itu mengundang reaksi dari istri Gubernur. Dia merasa 'diserang' secara pribadi atas kasus yang tidak diketahuinya. Saling balas komentar pun tak terhindarkan di unggahan foto tersebut. Dari komentar itu, Ipung mengetahui bahwa istri gubernur dan terduga pelaku berinisial GI merupakan teman sejak lama. Istri Gubernur merasa ada yang ingin merusak hubungan baiknya dengan GI. Lalu Ipung ikut berkomentar dan menjelaskan singkat.

"Saya bilang kasus ini kasus lama dan sudah jadi rahasia umum. Cuma semua bungkam, kalau ada bagian dari keluarga korban yang bicara, apakah baru mulai bereaksi?" kata Ipung.

Istri gubernur meminta pihak-pihak yang mengetahui kasus ini, agar melapor ke polisi. Setelah perang komentar, akhirnya istri Gubernur mengundang Ipung dan rekan-rekannya untuk diskusi di rumahnya, Wisma Sabha Utama, Denpasar. Pertemuan digelar, Senin (28/1) malam. Sekitar pukul tujuh malam.

"Akhirnya semua cerita tentang kasus itu kami disampaikan. Sejak tahun 2008, 12 anak kabur. Hingga akhir 2015. Kami bilang ke ibu Gubernur, semua assessment dan data ada di Prof Suryani (psikiater yang menanggani kasus ini)," ucapnya.

Mendengar itu, istri Gubernur kaget. Meskipun berteman dengan GI sejak kecil, dia tidak pernah membicarakan hal pribadi. Apalagi kasus ini. Dia juga kaget karena kasus ini tidak sampai ditangani polisi. "Ibu Gubernur hanya bilang 'ini membahayakan'," jelas Ipung.

Menurut Ipung, istri Gubernur berjanji membantu untuk menyelesaikan kasus ini. Sebab, jika bicara yang lebih umum, Bali masih menyisakan persoalan krusial yakni masalah pedofilia.

"Ibu gubernur bertanya 'Kalau (kasus) ini misalnya ditindaklanjuti, apa yang bisa bunda bantu?' Saya jawab tolong dekatin Prof Suryani, data korban di dia. Lalu dia bilang 'Bunda bantu, semoga saja bunda bisa bantu karena berteman dengan Prof Suryani."

Ipung yang juga salah satu anggota Pemerhati Anak dari Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Agen Bandar Perempuan Dan Anak (P2TP2A) bersyukur, langkah ini bisa menjadi pintu masuk membuka tabir gelap kasus lama yang tak pernah selesai secara hukum. Minimal, kata dia, Polda Bali mulai bergerak tanpa menunggu pengaduan dari korban.

"Tadi ada orang Polda telepon saya, minta data dan informasi yang cukup mengenai kasus ini. Sudah seharusnya polisi turunkan tim investigasi dan tidak perlu tunggu korban. Karena itu tugas aparat. Karena ini bukan delik aduan. Seperti halnya terorisme. Karena masyarakat dalam kondisi terancam, jadi polisi harus turun tangan," tegasnya.

Polda Bali Bergerak

Kabid Humas Polda Bali Kombes Pol Hengky Widjaja menyampaikan, pihaknya baru mendapat informasi mengenai dugaan kasus pelecehan seksual di salah satu sekolah asrama di Bali.

"Kita mendapat informasi terkait tindak pidana pedofilia di asrama wilayah Klungkung, itu dari media online. Kemudian, kami tidak lanjuti ke Ditreskrimum (untuk) dicek dan dijawab bahwa sampai sekarang belum ada laporan atau pengaduan resmi dari korban ini," ucapnya, di Mapolda Bali, Rabu (30/1).

Menurut Hengky, pihaknya dari Subdit 4 Reskrimum Polda Bali akan membentuk tim khusus untuk melakukan penyelidikan lebih lanjut.

"Di antaranya akan mengumpulkan saksi-saksi, baik itu yang disampaikan dan terjun langsung ke lapangan. Kami akan langsung ke lokasi," imbuhnya.

"Diharapkan warga yang mengetahui dan merasa dirugikan menjadi korban untuk tidak takut melaporkan kepada kami. Domino QQ Karena ini atensi tindak pidana pedofil. Jangan sampai Bali dijadikan atau disalahgunakan sebagai tempat pedofil," tutup Hengky.

No comments:

Post a Comment